
Museum Semedo Tegal Gelar Workshop Ecoprint Eksplorasi Fauna Lokal
TEGAL, Museum Semedo Tegal mengadakan workshop ecoprint pada 12 Oktober 2026, memperkenalkan keanekaragaman fauna setempat melalui teknik cetak daun alami. Acara yang dipimpin kurator seni lingkungan, Ibu Rina Suryani, melibatkan lebih dari 80 peserta dari kalangan pelajar, seniman, dan pecinta alam. Selama tiga jam, peserta belajar menyiapkan bahan, mengekstrak pigmen dari daun, serta mengaplikasikan hasilnya pada kain linen. Tujuan utama workshop adalah menumbuhkan kesadaran akan pentingnya konservasi fauna melalui media seni yang berkelanjutan.
Kegiatan tersebut diselenggarakan di ruang edukasi Museum Semedo, yang baru saja direnovasi dengan konsep ramah lingkungan. Selain demonstrasi langsung, museum menampilkan koleksi cetakan ecoprint yang menggambarkan satwa endemik seperti burung jalak bali, katak cacing, dan kupu‑kupu jelajah. Dengan demikian, peserta tidak hanya belajar teknik, tetapi juga memperoleh pengetahuan biologis tentang spesies yang terancam punah.
Detail Workshop Ecoprint di Museum Semedo
Workshop dimulai dengan sesi pengenalan singkat tentang ecoprint, sebuah teknik tradisional yang menggabungkan botani dan tekstil. Ibu Rina menjelaskan bahwa proses utama melibatkan penempatan daun segar pada kain, diikuti tekanan dan pengeringan selama 12‑24 jam. Selanjutnya, peserta dibagi menjadi kelompok kecil untuk mempraktikkan langkah‑langkah berikut:
1. Pemilihan daun – Daun dipilih berdasarkan warna alami dan tekstur; contoh yang paling populer adalah daun kelapa sawit, daun jati, dan daun pisang.
2. Persiapan kain – Kain linen dibasahi, kemudian ditempatkan di antara dua lembar kertas kraft untuk melindungi permukaan.
3. Penekanan – Menggunakan roller kayu, tekanan diberikan secara merata selama 5‑10 menit.
4. Pengeringan – Kain diletakkan di ruang pengering ber suhu 30°C selama 18 jam untuk mengunci pigmen.
Setelah proses selesai, hasil cetakan dipamerkan di dinding galeri. Mayoritas karya menampilkan siluet hewan yang terinspirasi dari jejak daun, menciptakan efek visual yang menyerupai bayangan fauna di hutan.
Teknik Ecoprint yang Digunakan
Berikut tabel perbandingan tiga jenis daun yang paling sering dipilih beserta warna dan intensitas hasil cetakan:
| Jenis Daun | Warna Dominan | Intensitas Pigmen* |
|---|---|---|
| Daun Kelapa Sawit | Coklat keemasan | Tinggi |
| Daun Jati | Hijau tua | Sedang |
| Daun Pisang | Kuning pucat | Rendah |
*Intensitas diukur berdasarkan kepadatan warna pada skala 1‑3 oleh tim kurator.
Teknik ini mengandalkan sifat alami pigmen, sehingga tidak memerlukan bahan kimia berbahaya. Selain itu, prosesnya dapat diulang dengan variasi daun yang berbeda, membuka peluang eksplorasi kreatif yang tak terbatas.
Respon Pengunjung dan Dampak Edukasi
Sebagian besar peserta melaporkan rasa kagum terhadap kemampuan seni untuk “menghidupkan” jejak fauna yang jarang terlihat. Salah satu peserta, mahasiswa Biologi Universitas Diponegoro, menyatakan, “Melihat pola daun berubah menjadi siluet burung membuat saya lebih menghargai peran ekosistem hutan.” Sementara itu, pelukis lokal menambahkan, “Ecoprint memberi saya cara baru mengekspresikan keindahan alam tanpa merusak lingkungan.”
Selain meningkatkan pengetahuan biologis, workshop juga menumbuhkan jaringan kolaboratif antara seniman, ilmuwan, dan lembaga konservasi. Museum Semedo berencana mengintegrasikan ecoprint ke dalam program pendidikan formal di sekolah-sekolah wilayah Jawa Tengah, dengan target melibatkan 5.000 siswa pada akhir tahun 2026.
Dengan keberhasilan acara ini, Museum Semedo menunjukkan bahwa seni ramah lingkungan dapat menjadi jembatan efektif antara budaya dan konservasi. Ke depan, museum berkomitmen menyelenggarakan lebih banyak kegiatan serupa, memperluas cakupan tema fauna, serta memperkuat peran museum sebagai pusat pembelajaran interdisipliner.



