Kebun Raya Banua Intensifkan Perawatan Tanaman di Tengah Kemarau

Kebun Raya Banua Intensifkan Perawatan Tanaman di Tengah Kemarau

BANJARMASIN, Kebun Raya Banua memperketat perawatan tanaman koleksi pada 15 September 2024 setelah hujan turun drastis dan suhu rata‑rata melampaui 35°C di wilayah Kalimantan Selatan. Pengelola taman botani, Dr. Andi Saputra, menjelaskan bahwa kekeringan ekstrem mengancam lebih dari 300 spesies endemik yang disimpan di rumah kaca dan kebun lapang. Oleh karena itu, tim kebun menambah frekuensi penyiraman, menerapkan mulsa organik, serta memasang sensor kelembaban tanah untuk memantau kebutuhan air secara real‑time.

Langkah-Langkah Intensif Perawatan

Tim kebun mengimplementasikan tiga strategi utama. Pertama, sistem irigasi tetes berteknologi rendah tekanan dipasang di seluruh zona koleksi; selain mengurangi pemborosan, sistem ini memungkinkan distribusi air yang merata. Kedua, mulsa jerami dan serbuk kayu diletakkan di atas tanah untuk menahan kelembaban serta menurunkan suhu permukaan. Ketiga, sensor kelembaban tanah yang terhubung ke pusat data memberi peringatan otomatis ketika kadar air turun di bawah ambang 20 %.

“Kami tidak bisa menunggu sampai tanaman menunjukkan stres yang parah,” ujar Dr. Andi dalam konferensi pers. “Dengan monitoring digital, kami dapat menyesuaikan volume air dalam hitungan menit.”

Selain itu, kebun menambah stok air bersih dengan mengalirkan air hujan yang disimpan dalam tiga reservoir baru berkapasitas total 500 m³. Sementara itu, petugas lapangan melakukan inspeksi harian pada 12 zona kritis, memastikan tidak ada kebocoran atau kerusakan pada pipa irigasi.

Dampak Kemarau pada Koleksi Tanaman

Kemarau 2024 tercatat sebagai yang terpanas dalam satu dekade terakhir, dengan curah hujan menurun 45 % dibandingkan rata‑rata tahunan. Akibatnya, beberapa spesies seperti Rafflesia arnoldii dan Amorphophallus titanum menunjukkan pertumbuhan daun yang melambat. Namun, berkat intervensi kebun, tingkat kelangsungan hidup tanaman tetap di atas 92 %.

Berikut data penggunaan air sebelum dan sesudah penerapan sistem baru:

Periode Volume Air (m³) Persentase Penurunan
Januari–Maret 2024 1.200 —
April–Juni 2024 1.050 12,5 %
Juli–September 2024 820 22,0 %

Data menunjukkan penurunan signifikan pada konsumsi air, sekaligus menjaga tingkat kelembaban optimal untuk tanaman sensitif. Di sisi lain, suhu tanah pada kedalaman 30 cm tetap stabil antara 24‑26°C berkat mulsa.

Dukungan Pemerintah dan Komunitas

Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menyediakan dana tambahan sebesar Rp 2,5 miliar untuk proyek adaptasi iklim di kebun raya. Selain itu, universitas setempat mengirimkan tim penelitian untuk mempelajari respons fisiologis tanaman terhadap stres air. Komunitas pecinta flora juga berpartisipasi dalam program “Sahabat Kebun”, menyumbangkan bahan mulsa organik dan membantu pemeliharaan harian.

“Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi, Ibu Rina Widyasari. “Kebun Raya Banua menjadi contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan dan kebijakan dapat bersinergi menghadapi perubahan iklim.”

Dengan langkah-langkah tersebut, Kebun Raya Banua berharap dapat melindungi keanekaragaman hayati sekaligus menjadi laboratorium hidup bagi penelitian iklim. Sementara musim kemarau masih berlanjut, tim kebun tetap siap menyesuaikan strategi berdasarkan data real‑time, memastikan setiap spesies memiliki peluang bertahan yang maksimal.

Keberhasilan ini tidak hanya memperkuat posisi Kebun Raya Banua sebagai pusat konservasi, tetapi juga memberikan model perawatan yang dapat diadopsi oleh kebun botani lain di wilayah tropis yang menghadapi tantangan serupa. Dengan komitmen berkelanjutan, harapan besar tetap menyertai upaya melestarikan warisan alam Indonesia untuk generasi mendatang.