Perhutani Bojonegoro dan Pokja Dukuh Bulu Reboisasi Gunung Pokak

Perhutani Bojonegoro dan Pokja Dukuh Bulu Reboisasi Gunung Pokak

BOJONEGORO, Perhutani KPH Bojonegoro bersama Pokja Dukuh Bulu menggelar aksi reboisasi di Gunung Pokak pada 22 Oktober 2026. Lebih dari 300 relawan menanam 45.000 bibit pohon cepat tumbuh, sebagai langkah awal pemulihan hutan yang sempat terdegradasi akibat penebangan liar.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program jangka panjang yang menargetkan penanaman 500.000 bibit dalam dua tahun ke depan. Selain meningkatkan tutupan hutan, proyek ini diharapkan dapat menurunkan erosi tanah dan memperbaiki kualitas air di daerah aliran sungai sekitarnya.

Rencana Penanaman dan Target Kuantitatif

Perhutani menetapkan tiga zona prioritas di lereng Gunung Pokak, masing‑masing dengan target spesifik. Zona A difokuskan pada area seluas 12 hektar, zona B mencakup 18 hektar, dan zona C menempati 20 hektar. Target tahunan dirinci dalam tabel berikut:

Zona Luas (ha) Bibit yang Ditanam 2026 Target 2027
A 12 150.000 200.000
B 18 200.000 250.000
C 20 150.000 200.000

Jenis Pohon yang Dipilih

Tim ahli memilih tiga spesies utama: Pinus merkusii, Acacia mangium, dan Eucalyptus urophylla. Pinus dipilih karena kemampuannya menahan longsor, sementara Acacia dan Eucalyptus mempercepat penyerapan karbon. Selain itu, ketiga jenis tersebut mudah beradaptasi dengan iklim tropis Bojonegoro.

“Penanaman ini bukan sekadar menambah pohon, melainkan memulihkan fungsi ekosistem yang hilang,” ujar Irwan Hidayat, Kepala KPH Bojonegoro. Ia menambahkan, “Kolaborasi dengan Pokja Dukuh Bulu memastikan partisipasi masyarakat lokal, sehingga keberlanjutan proyek lebih terjamin.”

Dukungan Masyarakat dan Pemerintah Daerah

Pokja Dukuh Bulu, yang dipimpin oleh Siti Nurhaliza, menyatakan antusiasme tinggi dari warga. “Kami melihat manfaat langsung, seperti penurunan suhu di desa dan peningkatan hasil pertanian,” katanya. Pemerintah Kabupaten Bojonegoro juga memberikan dukungan berupa penyediaan lahan, peralatan, dan dana operasional sebesar Rp 2,5 miliar untuk fase pertama.

Selain itu, lembaga swadaya masyarakat Green Indonesia menyediakan pelatihan teknik penanaman yang ramah lingkungan. Mereka menekankan, “Penggunaan pupuk organik dan mulsa alami akan meningkatkan tingkat survival bibit hingga 85 %.”

Tantangan dan Langkah Mitigasi

Meskipun antusiasme tinggi, proyek menghadapi beberapa tantangan. Pertama, curah hujan yang tidak menentu dapat mempengaruhi pertumbuhan bibit. Kedua, keberadaan satwa liar yang dapat merusak bibit muda. Untuk mengatasi hal tersebut, tim memasang pelindung batang (tree guards) dan menjadwalkan penyiraman tambahan pada musim kemarau.

Selain itu, Perhutani berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan untuk melakukan patroli rutin, guna mencegah kembali praktik penebangan ilegal. Dengan demikian, area yang telah direboisasi dapat berkembang menjadi hutan primer dalam jangka panjang.

Dampak Jangka Panjang

Jika target tercapai, hutan Gunung Pokak diproyeksikan menyerap hingga 12.000 ton CO₂ per tahun. Selain itu, peningkatan tutupan hijau akan memperbaiki mikroklimat daerah, menurunkan suhu rata‑rata desa sekitar 1,5 °C. Akibatnya, petani setempat melaporkan peningkatan hasil panen padi dan sayuran.

Reboisasi ini juga membuka peluang ekonomi baru, seperti ekowisata dan penjualan hasil hutan non‑kayu. Sehingga, komunitas lokal dapat memperoleh pendapatan tambahan sekaligus melestarikan lingkungan.

Dengan sinergi antara pemerintah, perusahaan kehutanan, dan masyarakat, Gunung Pokak berada di jalur pemulihan yang menjanjikan. Keberhasilan proyek ini dapat menjadi model bagi daerah lain yang menghadapi degradasi hutan serupa.