Kuningan Luncurkan Program Pemulihan Flora dan Fauna Seluas 1.200 Ha

Kuningan Luncurkan Program Pemulihan Flora dan Fauna Seluas 1.200 Ha

KUNINGAN, Pemerintah Kabupaten Kuningan resmi meluncurkan program pemulihan flora dan fauna seluas 1.200 hektar pada 15 Oktober 2026. Program ini menargetkan revitalisasi hutan gundul, penangkaran satwa terancam, serta pemberdayaan masyarakat sekitar melalui pelatihan menanam pohon.

Inisiatif ini didanai sebesar Rp 250 miliar, yang berasal dari alokasi APBN, hibah internasional, dan kontribusi sektor swasta. Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kuningan, Dr. Ir. Siti Mahmudah, tujuan utama adalah meningkatkan keanekaragaman hayati dan mengurangi erosi tanah di wilayah pegunungan.

Rincian Program dan Target Area

Program mencakup tiga zona prioritas: zona pegunungan selatan, dataran rendah timur, dan kawasan pesisir barat. Setiap zona memiliki target spesies flora dan fauna yang berbeda, sesuai tingkat kerentanan.

Spesies yang Difokuskan

Berikut tabel menampilkan spesies utama yang menjadi fokus penangkaran dan pemulihan habitat:

Spesies Status IUCN Target Populasi 2028
Macaca fascicularis (Macaek) Vulnerable 500 ekor
Pithecophaga jefferyi (Burung Cendrawasih) Endangered 120 ekor
Pinus merkusii (Pinus Merkusii) Least Concern 30 000 pohon
Dipterocarpus sp. (Kayu Putih) Near Threatened 20 000 pohon

Data tersebut diambil dari laporan awal tim konservasi yang dipimpin oleh LSM GreenEarth Indonesia. Selain menanam 30.000 bibit pinus, tim juga melakukan penangkaran burung cendrawasih di suaka terdekat.

Kemitraan dan Pendanaan

Pelaksanaan program melibatkan empat mitra utama: Dinas Lingkungan Hidup Kuningan, LSM GreenEarth Indonesia, Universitas Padjadjaran, serta perusahaan pertambangan PT Bumi Sejahtera. Setiap pihak menyumbangkan keahlian, tenaga, atau dana.

  • Dinas Lingkungan Hidup: Koordinasi lapangan dan pemantauan.
  • GreenEarth Indonesia: Pengetahuan konservasi dan pelatihan.
  • Universitas Padjadjaran: Riset keanekaragaman hayati.
  • PT Bumi Sejahtera: CSR sebesar Rp 80 miliar.

Pendanaan tambahan sebesar Rp 30 miliar diperoleh melalui program CSR bank lokal, yang khusus dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur air bersih bagi satwa.

Dampak terhadap Keanekaragaman Hayati

Sejak peluncuran, lebih dari 5.000 relawan lokal telah menanam pohon di zona pegunungan selatan. Hasil awal menunjukkan penurunan laju erosi sebesar 35% dalam tiga bulan pertama. Selain itu, populasi macaek yang sebelumnya menurun drastis kini menunjukkan peningkatan 12% pada survei lapangan terakhir.

“Kami melihat perubahan nyata pada tanah dan satwa. Upaya bersama ini memberi harapan bagi generasi mendatang,” ujar Dr. Siti Mahmudah.

Manfaat Sosial dan Ekonomi

Program ini tidak hanya berfokus pada lingkungan, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi warga. Lebih dari 200 tenaga kerja lokal terlibat dalam kegiatan penanaman, perawatan, dan pemantauan satwa. Pendapatan tambahan diperkirakan mencapai Rp 15 miliar per tahun melalui ekowisata berbasis komunitas.

  • Peningkatan pendapatan rumah tangga.
  • Pelatihan keterampilan menanam dan perawatan hutan.
  • Pengembangan jalur ekowisata edukatif.

Dengan dukungan berkelanjutan, Kuningan berharap pada akhir 2028 area rehabilitasi dapat berfungsi sebagai koridor hijau yang menghubungkan taman nasional terdekat, memperkuat jaringan habitat satwa migrasi.

Program pemulihan flora dan fauna Kuningan menjadi contoh kolaborasi lintas sektor yang dapat direplikasi di daerah lain. Keberhasilan awal menegaskan pentingnya investasi jangka panjang dalam konservasi lingkungan, sekaligus mengangkat kesejahteraan masyarakat setempat.